![]() |
| foto: istimewa (google) |
Tuesday, June 19, 2012
Hentikan Spanduk WE LOVE ANTV di dalam stadionmu kawan
Monday, June 18, 2012
Ketika Sepakbola dan Kearifan Lokal Saling Menghormati
![]() |
| foto: istimewa (google) |
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib
Monday, February 14, 2011
PERSIB lihatlah pemain muda

“Nampaknya ini merupakan bench termahal dalam sejarah Liga Indonesia pemirsa…” inilah sebuah respon yang terdengar dari seorang komentator ANTV saat camera mengambil gambar keadaan bench pemain pengganti pemain PERSIB saat pertengahan babak pertama dalam derby West Java melawan pasukan Peita Jaya Karawang (6/2). Sangat menggelitik perkataan komentator ini, bagaimana tidak saat itu camera memperlihatkan pemain-pemain bintang PERSIB yang tengah duduk manis di bangku cadangan termasuk 4 legiun asing PERSIB musim ini Hilton Moreira, Pablo Frances, Syahril Ishak dan Baihaki Khaizan. Memang benar perkataan sang komentator TV ini, padahal kondisi para pemain asing ber label bintang ini tidak dalam kondisi cedera atau sakit sekalipun, alias fit dan siap untuk diturunkan dalam arena pertarungan.
Pada pertandingan tersebut coach Daniel Roekito memang lebih memilih untuk menurunkan skuad lokal nya dibandingkan pasukan asing nya. Hilton Moreira dan Pablo Frances yang selalu menjadi striker pilihan kedua dan ketiga setelah Christian Gonzales harus merelakan tempatnya menjadi starter setelah diisi striker muda Airlangga Sucipto. Sedangkan posisi Baihaki Khaizan di lini pertahanan tim ditempati salah satu mantan punggawa Timnas Isnan Ali. Senasib dengan kompatriotnya el capitano Timnas Singapura pun harus merelakan posisi nya ditempati Eka Ramdhani, karena pada pertandingan melawan Pelita Jaya Karawang ini PERSIB lebih memilih untuk menurunkan 4 orang saja di lini tengah. Mungkin saja coach Daniel Roekito kecewa dengan kinerja beberapa legiun asing milik PERSIB ini yang berimbas pada hasil yang didapatkan tim dalam 11 pertandingan terakhir. Bagaimana tidak sebelum pertandingan melawan Pelita Jaya, PERSIB hanya mampu bertengger di peringkat 14 klasemen alias hanya satu strip saja di atas Bontang FC yang berdomisili di dasar klasemen. Melakoni 12 Laga dengan hasil 3 kali menang 2 kali draw 7 kali kalah memasukan 11 goal dan kemasukan 24 goal, hanya satu kata memalukan!
Dilain pihak beberapa pemain muda hasil binaan PERSIB yang diberikan kepercayaan tampil bisa dikatakan cukup menjanjikan dalam skala usia nya. Wildansyah dan Muhammad Agung Pribadi secara permainan dan mental bisa dikatakan semakin matang. Dan juga jangan lupakan striker masa depan Timnas Indonesia Airlangga Sucipto, meskipun pada pertengahan babak 2 Airlangga digantikan Hilton Moreira tetapi nampaknya diturunkannya Airlangga dalam pertandingan kali ini memberikan sedikit bukti kapabilitas sang pemain, akibat tendangan spekulasi yang dilepaskan Airlangga bola terlepas dari tangkapan Wardhana kiper Pelita Jaya dan bola reborn pun berhasil disambut Christian Gonzales dan menjadi satu – satu nya goal yang terjadi pada pertandingan sore itu.
Selain ketiga pemain muda yang diturunkan melawan Pelita Jaya, sebenarnya PERSIB masih memiliki beberapa nama pemain muda penuh potensial lainnya seperti Jejen yang saat ini tengah mengalami cedera. Bahkan sebelum mengalami cedera Jejen seolah menghipnotis para bobotoh dengan pergerakan nya yang nyaris mirip salah satu living legend milik PERSIB Yudi Guntara. Belum lagi beberapa pemain muda bertaleta tinggi yang saat ini mengabdi di PERSIB U-21 yang akan selalu siap kapanpun jika harus dipanggil memperkuat PERSIB senior. Lalu jika mempunyai beberapa pemain muda yang mempunyai prospek yang cukup menjanjikan dimasa depan kenapa harus terus-menerus menghaburkan uang dengan mendatangkan pemain berlabel bintang dengan penampilan standart dan loyalitas tanda tanya besar.
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib
Tuesday, February 1, 2011
Nurdin Halid Belajar lah dari Gejolak di Timur Tengah
Akhir - akhir ini kondisi bumi di belahan timur tengah seolah menyihir kita semua untuk menyimak perkembangan nya setiap saat, bagaimana tidak? negara yang selama ini selalu dianggap adem ayem dan jauh dari kata chaos Mesir berubah 180 derajat kondisi nya. Kerusuhan dan demonstrasi besar – besar an massa pun terjadi setiap hari nya di Negara yang terkenal dengan seribu menara ini. Alasan nya hanya satu mereka menginginkan Presiden mereka turun dari jabatannya. Sekarang ini bola panas masih terus bergulir di kawasan Mesir, meskipun presiden Husni Mubarak berjanji tidak akan mencalonkan kembali dalam pemilihan Presiden yang akan digelar bulan oktober nanti dan memilih untuk meneruskan jabatan nya sampai habis. Masyarakat pun menolak tegas dan menuntut Husni Mubarak turun saat ini juga. Husni Mubarak sendiri telah menjabat jabatan sebagai Presiden Mesir sejak tahun 1981 setelah menggantikan Presiden sebelumnya Anwar Sadat yang dibunuh secara mengenaskan oleh salah satu perwira Mesir pada saat parade ulang tahun angkatan bersenjata Mesir. Mungkin kondisi seperti ini nyaris serupa dengan gelombang reformasi di Negara Indonesia pada pertengahan tahun 1998 yang menuntut Presiden Alm. Soeharto kala itu untuk mundur. Mungkin secara garis besar pelajaran yang bisa dipetik dari kasus seperti ini yakni terlalu lama nya seorang Pemimpin/Presiden menjabat. Lalu apa hubungan nya dengan Nurdin Halid dan sepakbola? Nurdin Halid memang bukan seorang Presiden di Negara ini, namun bagaimana pun juga beliau ini merupakan ‘Presiden’ dari lembaga yang bernama PSSI. Sebuah lembaga tertinggi persepakbolaan Indonesia, yang mempunyai hak sangat istimewa yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun termasuk oleh pemerintah Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama beberapa tahun kebelakang ini sangat besar tuntutan masyarakat pecinta si kulit bundar untuk sang penguasa Nurdin Halid lengser dari jabatan nya. Suara para pecinta sepakboal ini bukan hanya sebatas di kalangan dunia maia/internet saja, tapi sudah terang – terang an seperti saat timnas Garuda berlaga di ajang AFF Suzuki Cup Desember silam, seolah tanpa komando seluruh penghuni GBK meneriakan satu kalimat secara serentak Nurdin Mundur! Bahkan chants baru ini pun menular dalam beberapa laga baik itu di kompetisi Indonesia Super League, Liga T - Phone maupun Liga Primer Indonesia. Alasan kekecewaan para penikmat sepakbola ini pun begitu kompleks namun satu yang pasti alasan utama nya yakni miskin nya prestasi Timnas Garuda menjadi katalisator yang paling besar. Bagaimana tidak? Prestasi seolah enggan untuk menghinggapi pasukan Garuda, dalam 7 tahun ini jangan kan pulang membawa medali emas dan berkumandang Indonesia Raya dalam acara pengalungan medali, untuk menjadi finalis di ajang sekelas Sea Games pun hanya sebuah mimpi belaka. Dalam ajang AFF Cup yang dulu bernama Tiger Cup pun sebelas duabelas alias sami mawon, 4 kali menjadi runner up tanpa satu gelar juara sekali pun bukan sebuah prestasi yang harus dibanggakan dari sebuah Negara yang memiliki kompetisi paling bonafit di kawasan Asia Tenggara. Ketika AFF Cup desember silam hampir seluruh masyarakat Indonesia termakan euphoria yang sangat berlebihan, mungkin saya pribadi menanggapai nya biasa saja, karena permainan Timnas bisa dikatakan biasa saja jauh dari kata istimewa, bahkan menurut saya secara permainan jauh lebih baik ketika jaman keemasan angkatan Widodo C. Putro maupun Roby Darwis (tapi tidak untuk Mursyid Effendi). Belum lagi dalam ajang sekelas Asian Games atau Piala Asia jangankan untuk berbicara juara, untuk dapat lolos ke putaran final pun sudah syukur Allhamdulilah. Bagaimana dengan event sekelas Piala Dunia? kejauhan…
Selain itu pun masih banyak alasan - alasan lain nya seperti jadwal dan format kompetisi yang jauh dari kata konsisten, berubah – ubah setiap saat menjadi santapan klub yang seolah telah terbiasa. Tak berwibawa nya PSSI dihadapan badan pemerintahan lainnya seperti Polisi sehingga sejumlah pertandingan sering tidak mendapatkan izin atau digelar tanpa penonton, bahkan kejadian lucu dalam dunia persepakbolaan Indonesia pernah terjadi kala seorang Kapolda mengintervensi sebuah laga Final Copa Indonesia. Selain itu pun kompetisi yang berjalan di bawah komando PSSI disinyalir jauh dari kata fair play dan terindikasi terjadinya jual beli trofi sejak musim 2003 yang disinyalir juara yang tampil mempunyai kepentingan politik karena ketua atau manajer klub yang bersangkutan akan bertarung di arena Pilkada. Hal ini pun berimbas pada kekecewaan beberapa insan sepakbola yang membuat liga tandingan LPI dibawah naungan seorang pengusaha top di negeri ini Arifin Panigoro. Namun niatan tulus atau tidak dari terbentuknya liga ini belum bisa dinilai begitu besar, karena liga nya pun baru seumur jagung dan baru melakoni beberapa partai saja.
Sedikit gambaran Nurdin Halid sendiri menjabat ketua umum PSSI menggantikan Agum Gumelar yang mengundurkan diri di tahun 2002, setelah timnas Garuda gagal masuk semifinal di ajang SEA GAMES. Nurdin Halid berhasil mengalahkan saingan nya Soemaryoto dan Jacob Nue Wea dalam memperebutkan kursi ketua umum dalam kongres PSSI di Hotel Indonesia bulan November 2003 silam. 7 tahun sudah Nurdin Halid memimpin orginasasi PSSI ini namun sayang nya kinerja yang dihasilkan jauh dari kata sempurna, bahkan nilai minus nya pun lebih dominan dibandingkan nilai plus dari kacamata penikmat sepakbola negeri ini termasuk saya pribadi. Seolah bak seorang Raja, pemerintah yang langsung dikomandoi Presiden dan Menpora pun seolah tanpa daya, gagal total melengserkan secara ‘paksa’ Nurdin Halid dalam Kongres Sepak Bola Nasional, di Malang 30-31 Maret silam. Bahkan dalam hasil kongres PSSI beberapa minggu silam yang diadakan di Bali, secara tegas Nurdin Halid akan kembali mencalonkan diri untuk jabatan ketua umum PSSI periode berikutnya karena didukung mayoritas pengprov dan pengcab PSSI. ‘Waduh…. kacau dah, bapak kita yang satu ini. Jangan kan menyadari kegagalan nya dan legowo untuk mengundurkan diri malah dengan lantang ingin mencalonkan ketua umum PSSI untuk periode berikutnya, yang lebih aneh Pengprov sama Pengcab nya ko malah ngedukung ya….’
Mungkin Nurdin Halid harus bisa berkaca diri dengan kejadian reformasi besar-besar an yang saat ini menerpa beberapa Negara di timur tengah seperti Sudan, Yordania, Tunisia dan Mesir. Bagaimana pun jika seseorang terlalu lama duduk di bangku pimpinan, maka dia tidak akan pernah menyadari kesalahan nya dan menganggap diri layaknya seorang Raja tanpa cacat. Bukankan sejarah di muka bumi ini pernah mencatat beberapa pemimpin besar yang dituntut mundur secara paksa oleh gelombang massa yang sangat besar? Dan berakhir dengan kerusuhan dan buruk nya nama pemimpin tersebut dikemudian hari. Beliau tidak harus menunggu ribuan bahkan ratusan ribu massa turun kejalan untuk menuntut mundur. Bukankah seorang Presiden pun bisa turun secara paksa oleh tuntutan masyarakat? apalagi ini sekupan nya lebih kecil yakni hanya ketua umum PSSI. Alangkah lebih bijak jika Nurdin Halid dan kroni legowo menyerahkan tampuk pimpin pada orang yang lebih kompeten dan mempunyai niat tulus untuk memajukan persepakbolaan Negeri ini. Bukan hanya mengamankan kepentingan golongan dan partai politik yang menaungi mereka. Karena bagaimana pun seperti yang bang Anas Urbaningrum tuliskan dalam salah satu tweet nya di akun jejaring sosial Twiteer, “kalau mau bola maju, PSSI mesti diurus oleh tokoh non-partai dan gila bola”. Yap saya pribadi sangat setuju dengan pendapat salah satu politikus ini karena bagaimana pun sepakbola akan jauh lebih indah jika tanpa politik!
Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib
Sunday, January 23, 2011
Tawa Arifin Panigoro Derita Nurdin Halid
Foto: Istimewa (kondisi tribun utara stadion Siliwangi saat pertandingan PERSIB vs AREMA)
Namun sebenarnya ada sebuah pemandangan yang sangat menarik bagi saya di tengah-tengah kerusuhan tersebut, seluruh penonton di stadion seolah tanpa komando menerikatan satu kata secara serempak LPI… LPI… LPI… LPI… LPI… Dan yang lebih parah supporter yang sedang berada di tengah lapangan dan tengah bertempur pun, menyeret sebuah papan iklan yang tergeletak di sisi lapangan tepat dibawah tribun timur yang bertulisakan LIGA PREMIER INDONESIA beserta logo nya. Papan iklan ini sebenarnya biasa digunakan ketika Bandung FC (salah satu klub LPI) melakoni partai kandang nya di stadion Siliwangi. Pada saat itu saya hanya terseyum dan langsung terfikirkan, bagaimana dengan reaksi Nurdin Halid dan Arifin Panigoro melihat kerusuhan malam itu melalui siaran TV ya? pasti menyajikan dua ekspresi yang sangat kontras dan jelas berbeda.
Sebenarnya emosi penonton pada malam itu terselut setelah salah satu pemain Arema melakukan handsball di kotak penalty, namun wasit yang memimpin pertandingan Najamudin Aspiran bersikukuh pada pendirian nya dan berpendapat bukan sebuah handsball. Mungki feeling saya sang wasit menganggap tangan salah satu pemain Arema yang menyentuh bola tersebut berada pada posisi negative. Namun bisa jadi juga merupakan sebuah pesanan, nama nya juga Liga Sinetron Indonesia hehehe…. Mungkin hanya sang wasit, PSSI dan Tuhan yang tau kejadian yang sebenarnya. Secara keseluruhan sebenarnya kepemimpinan wasit malam itu saya rasa cukup baik (terkecuali tragedi handsball tersebut), namun nampak nya para supporter PERSIB sudah terlalu sakit hati ketika tim nya dicurangi habis-habisan ketika pada pertandingan terakhir nya di kandang PERSISAM oleh wasit Soeharto, empat hari sebelum pertandingan melawan AREMA. Yang secara tidak langsung menyimpulkan di pikiran masing-masing supporter bahwa semuanya wasit di ISL (*maaf) goblog.
Mungkin hal ini bisa penjadi pembelajaran bagi Nurdin Halid beserta PSSI nya, mereka jangan terus-menerus bermanuver politik, musyawarah-musyawarah tertutup yang ga penting, mencari koalisi dan dukungan layaknya parpol menjelang pemilu. Lebih baik mereka mengurusi kompetisi berjalan dengan semestinya. Kualitas wasit, pengaturan jadwal yang tidak konsisten, komisi disiplin yang seolah tebang pilih dan sering termakan keputusan nya sendiri. Sebenarnya hal tersebut merupakan basic dari sebuah kompetisi sepakbola yang bersih dan menjunjung nilai-nilai fair play, tapi mengapa penyimpangan tersebut selalu terulang dan terulang lagi. Bukan hal yang mustahil jika kejadian ini terjadi kembali, bisa berakibat pada hijrah nya klub-klub besar dari ISL dan menuju LPI, yang memang menjanjikan kompetisi yang bersih (meskipun belum teruji, karena rata-rata klub LPI baru melakoni 2 partai). Sebuah kerugian besar jika hal ini terjadi, karena bagaimana pun klub-klub besar seperti PERSIB, PERSIJA atau AREMA merupakan lumbung terbesar PSSI baik itu dari sektor hak siar TV maupun dari sektor-sektor yang lain nya. Lalu apa yang akan PSSI jual pada masyarakat Indonesia, jika klub-klub besar ramai-ramai hijrah menuju LPI? Berfikirlah Nurdin Halid dan PSSI, jika memang tidak mau mundur dan tetap ingin menjalankan organisasi PSSI dan kompetisi ini, berjalan lah dengan semestinya, kompetisi sepakbola yang menjunjung nilai luhur fair play bukan kepentingan politik nan pragmatis. Niscaya pecandu sepakbola di Negeri ini pun setidak nya bisa respect kembali, meskipun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tidak seperti saat ini, ribut kesana kemari dan menganggap kompetisi di luar PSSI merupakan kompetisi yang haram. Tetapi kompetisi yang mereka urus pun sangat buruk! Bahkan menurut saya lebih professional kompetisi Domba Cup antar kampung. So, saya beserta rekan-rekan datang ke stadion dengan segenap harapan untuk bisa menyaksikan pertandingan yang bersih dan prestasi maksimal dari lambang kebanggaan di dada, bukan untuk menyaksikan sebuah kompetisi yang penuh dengan intrik layaknya sinetron! Football is life!
Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib
Wednesday, December 1, 2010
Harapan dalam Tubuh Naturalisasi
Bahagia, senang, gembira, bangga, terharu, mungkin itulah beberapa kata yang bisa menggambarkan perasaan seluruh masyarakat Indonesia malam tadi, tidak peduli itu seorang fans setia Timnas Garuda atau seseorang yang selalu mempertanyakan arti Nasionalisme seumur hidup nya. Namun satu yang pasti, penampilan Firman Utina dkk malam itu memang sangat luar biasa. Malaysia yang turun dengan skuad terbaiknya dibantai tanpa ampun dengan score yang cukup fantastis 5-1. Setidaknya hasil yang diraih malam tadi seakan menjadi sebuah pembuktian bagi Negeri tetangga yang dalam beberapa tahun terakhir selalu saja berselisih faham dengan Negara kita, mulai dari sengketa sebuah Pulau terluar sampai pelanggaran hak cipta (meskipun sebenarnya di dalam Islam sih dilarang keras untuk dendam hehe). Dalam pertandingan melawan Malaysia tersebut timnas Garuda diperkuat pemain ‘baru’ dengan wajah lama hasil naturalisasi PSSI yakni punggawa PERSIB Bandung Christian Gonzales dan striker PERSEMA Malang Irfan Bachdim. Bahkan tanpa disangka ke dua bomber baru ini pun langsung mencetak goal di event resmi perdananya memakai seragam Merah Putih.
Seluruh penikmat sepakbola tanah air pasti mengenal siapa sosok seorang Christian GĂ©rard Alvaro Gonzales, maklum saja beliau merupakan striker terproduktif yang pernah dilahirkan Liga Indonesia. Sejak tahun 2003 ketika mendarat di Indonesia untuk pertama kali dan memutuskan untuk membela panji PSM Makasar, Gonzales sudah berhasil menyabet gelar top score Liga Indonesia 4 kali, top score Piala Indonesia 1 kali dan berhasil membawa tim PERSIK Kediri menjadi kampiun di Liga Indonesia tahun 2006. Dan yang membanggakan sebenarnya Christian Gonzales ingin memperkuat Timnas Garuda sejak beliau mengucap 2 kalimat syahadat menjadi seorang mualaf dan menikahi istri nya Eva Siregar yang notabene nya merupakan orang Indonesia asli. Namun entah mengapa pengajuan naturalisasi ini baru dikabulkan PSSI ketika usia Gonzales sudah menginjak 34 tahun. Tapi seperti pepatah bilang “Lebih baik terlamat daripada tidak sama sekali”, toh seorang Gonzales pun saat ini masih menjadi salah satu striker terbaik di Liga Indonesia dan masih memiliki naluri sebagai predator di kotak penalty lawan, meskipun kecepatan dan stamina nya tidak sebaik 4 atau 6 tahun kebelakang. Tapi satu yang pasti Christian Gonzales sangat mencintai Negara baru nya ini.
Nama ke dua yakni Irfan Bachdim, mungkin nama Bachdim tidak se famous Gonzales dalam dunia persepakbolaan Indonesia, maklum saja tahun ini merupakan tahun pertama Bachdim merasakan atmosfir panas nya Liga Indonesia. Meskipun musim kemarin sebenarnya Bachdim sempat melamar pada PERSIB Bandung dan PERSIJA Jakarta, namun ke dua tim ini menolak Bachdim dengan alasan yang sama, yakni Bachdim terlalu stylist untuk permainan sekeras Liga Indonesia. Di awal musim ini bersama PERSEMA Malang, Bachdim berhasil mencuri perhatian publik sepakbola Indonesia. Betapa tidak dalam beberapa pertandingan, Bachdim selalu membuktikan dengan goal-goal indah nya ke gawang lawan bersama PERSEMA Malang. Hal ini pun mendapatkan respon positif dari pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl yang langsung memberikan tempat Bachdim untuk membela panji merah putih. Keberuntungan pun nampak tidak menjauh dari Bachdim, dalam pertandingan melawan Malaysia tadi malam Bachdim diberikan kepercayaan penuh oleh Alferd Riedl untuk menjadi starter dan tandem Christian Gonzales. Bahkan duet naturalisai ini pun secara tidak langsung berhasil melengserkan satu posisi abadi yang dimiliki striker PERSIJA Jakarta Bambang Pamungkas di lini depan Timnas Garuda. Layaknya cerita-cerita dongeng, di malam pertama nya bersama Timnas Indonesia Bachdim tampil sangat luar biasa, Bachdim berhasil menjaringkan 1 goal dan satu penyebab bek Malaysia M Asraruddin Putra melakukan goal bunuh diri. Bachdim pun berhasil medapatkan gelar Man Of The Match pada pertandingan tersebut, mengalahkan para pencetak goal lain nya seperti Christian Gonzales, M.Ridwan dan Arif Suyono. Ternyata respon yang di dapat Bachdim dari masyarakat luas terhadap performa nya dilapangan, saya yakin mungkin sangat diluar ekspetasi. Bagaimana tidak malam tersebut seolah menjadi malam nya Bachdim, di situs jejaring sosial Twitter, Bachdim berhasil menjadi Worldwide Trending Topic no 2 setelah World AIDS selama satu malam penuh, bahkan ketika saya menulis ini di pagi hari pun Bachdim masih menjadi perbincangan no satu para pengguna Twitter di Indonesia. Seolah menjadi selebriti dadakan, acount twitter Bachdim pun di buru khalayak ramai pengguna jejaring sosial. Sebelum pertandingan melawan Malaysia berlangsung account pribadi milik Bachdim ini hanya memiliki sekitar 4000 followers, tetapi sampai pagi ini ketika saya melihat kembali ternyata sudah memiliki 29110 followers. Wow….. Dan yang lebih lucu ketua partai Demokrat Anas Urbaningrum pun ikut-ikutan berkomentar mengenai Bachdim di account miliknya. “Irfan Bachdim berpotensi menjadi bintang baru Timnas. Asalkan tidak cepat puas dan tidak berbelok menjadi pemain sinetron, hehe. Bachdim, lanjut gan!” seloroh nya, yang tentu mendapat respon luar biasa dari masyarakat dunia maia. Tetapi dibalik superior nya seorang Irfan Bachdim malam itu sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat mengganjal dalam hati saya. Dalam wawancara dengan para wartawan yang dilakukan sesaat setelah pertandingan, terlihat Bachdim melakukan wawancara menggunakan bahasa Inggris. Berbeda dengan Gonzales yang melakukan wawancara dengan menggunakan bahasa Indonesia meskipun dengan aksen khas orang luar. Bahkan jika di lihat dalam account twitter nya Bachdim selalu menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi dengan khalayak luas, tanpa sisipan bahasa Indonesia sedikitpun. Mungkinkan seorang Irfan Bachdim belum bisa berbahasa Indonesia? Entah lah mungkin hanya beliau dan Tuhan yang tau. Jujur, sebenarnya saya sih saya kecewa berat. Memang seorang Irfan Bachdim belum cukup lama tinggal dan belajar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tetapi ketika Bachdim sudah memiliki KTP dan Pasport Indonesia dan menggunakan jersey berlambang Garuda di dada nya, adalah sebuah pertanyaan besar bagi saya. Bukankah dalam Sumpah Pemuda point ke tiga pun mengatakan ”Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Berbeda konteks bila dibandingkan dengan yang dilakukan pelatih Alferd Riedl, meskipun beliau saat ini mengarsiteki Timnas Garuda tetapi beliau tidak pernah mengucapkan sumpah dan mendeklarasikan diri menjadi bagian NKRI dan itu murni sebagai seorang pekerja profesional. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi PSSI dan pemain-pemain berwajah Indo lain nya yang saat ini mungkin terobsesi dengan keberhasilan seorang Irfan Bachdim. Ketika mengucapkan janji setia pada Negara baru nya, setidak nya pula bisa dan faham meskipun hanya sedikit.
Hari minggu ini pasukan Garuda akan kembali berlaga dalam ajang AFF Suzuki Cup 2010 berikutnya melawan Laos, yang di pertandingan perdana nya di luar dugaan berhasil menahan imbang salah satu tim unggulan Thailand 2-2. Tentu masyarakat pecinta sepakbola tanah air pun akan kembali berharap lebih pada ketajaman 2 pemain naturalisai ini, karena bagaimana pun Christian Gonzales dan Irfan Bachdim saat ini sudah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat berjuang Indonesia ku! Berjuanglah sampai titik keringat terakhir di lapangan! Kami selalu merindukan prestasi yang terlahir, bukan sekedar cacian dan makian yang terlalu sering masyarakat dengungkan! Rebut supremasi raja sepakbola di kawasan Asia Tenggara untuk pertama kalinya. Ini kandang kita! B.E.L.I.E.V.E.!
Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib
Tuesday, November 9, 2010
Respect and Unity Sebuah Harga Mati

Sebenarnya apa yang kurang dari tim PERSIB musim ini, dilihat dari segi financial tim sangat begitu menjanjikan ,disaat tim lain peserta ISL musim ini mengemis-ngemis pada pemerintahan daerah untuk mencairkan dana hibah nya demi tim nya bisa mengikuti jalannya kompetisi. Justru tim PERSIB dengan gagah nya diserbu para sponsor yang tertarik men sponsori tim ini. Dari segi pemain pun tim PERSIB Bandung merupakan salah satu tim yang sangat menjanjikan, 5 pemain berlabel timnas Indonesia, 2 pemain berlabel timnas Singapura, 4 pemain Asing yang notabenya bisa dikatakan yang terbaik di negeri ini dan beberapa talenta muda yang insya Allah mempunyai prospek cerah untuk kedepan nya, merupakan jaminan mutu kualitas tim ini. Untuk sektor pelatih pun bisa dikatakan cukup menjanjikan karena coach Jovo memilki segudang pengalaman dalam menangani sebuah tim sepakbola. Belum lagi ditambah dukungan publik Jawa Barat yang begitu hebat nya pada tim ini, kala PERSIB melakoni partai kandang, hampir nyaris tidak ada tempat kosong sedikitpun dari sektor tribun penonton. Belum lagi dari penonton yang menyaksikan laga PERSIB dari layar kaca, menurut informasi yang pernah saya dengar, PERSIB merupakan salah satu jagoan ANTV dalam hal ratting penonton di layar kaca, itulah alasan konkret mengapa jika PERSIB berlaga baik itu partai kandang maupun tandang selalu disiarkan live pihak ANTV (terkecuali jika melakoni tour Papua biasanya). Lalu sebenarnya apa yang kurang jika dilihat dari faktor tersebut diatas.
Mungkin ini hanya pandangan saya pribadi, dan maaf tidak ada maksud sedikitpun untuk mencari kambing hitam untuk sebuah keterpurukan ini.
Tidak ada kejelasan bagian kerja antara Konsorsium dan Management, hal ini menurut saya yang menjadi dasar keterpurukan tim PERSIB musim ini. Seperti yang kita ketahui bersama diawal sebelum bergulir nya kompetisi pihak konsorsium menunjuk coach Darko-Daniel Janakovic untuk mengarsiteki tim ini. Tapi dilain pihak ternyata management tidak setuju dengan penunjukan coach Darko dan telah memilki pihan nya tersendiri, tentu hal ini sangat jelas menciptakan kondisi yang sangat tidak kondusif di tubuh tim. Disinilah sebenarnya yang harus dirubah dan diperbaiki, sebenarnya yang berhak menentukan seorang pelatih di tim ini apakah pihak management atau pihak konsorsium? Ini harus jelas 100% jika memang diperlukan perjanjian dilakukan diatas materai, agar semuanya clear dan tidak ada klaim mengklaim, intervensi, atau sejuta kata dengan satu makna yang lain nya.
Manager dan Pelatih, sebenarnya ini masalah klasik yang dialami hampir seluruh tim semi-profesional. Sebenarnya siapakah yang lebih berhak merekrut dan mencari pemain untuk bermain di tim nya? Bukankah mulai kompetisi tahun lalu PERSIB sudah mengklaim diri yang asalnya tim semi-profesional berubah menjadi klub professional yang sudah tidak sama sekali menyusui dana hibah dari pihak Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar. Jadi sudah saat nya pula PERSIB merubah kebiasaan klub-klub amatir eks Perserikatan yang mempunyai “dua pemimpin dalam satu tim”. PERSIB sudah saatnya melebur posisi Manager dan Pelatih dalam satu kepala layaknya tim professional lain nya di muka bumi ini. Karena posisi ini layaknya seorang pemimpin perusahan, jika perusahaan mengalami kerugian atau kolaps maka pihak pemimpin perusahaan lah yang harus mempertanggung jawab kan nya pada pemilik perusahaan, begitu pula dalam klub sepakbola jika klub mengalami keterpurukan maka pihak pelatih/manager lah yang pihak pertama yang harus bertanggung jawab pada pemilik klub dalam hal ini adalah konsorsium. Contoh nya klub Manchester United, tim ini menunjuk seorang Sir.Alex Fergusons untuk menakodai tim ini sebagai pelatih merangkap Manager, sedangkan kepengurusan Manchester United dijabat chairman bersama Joel dan Avram Glazer. Posisi Chief Executive dipegang Bryan Glazer, Darcie Glazer, Edward Glazer dan Kevin Glazer. Sedangkan posisi Chief Operating Officer sendiri dipegang David Gill dan Michael Bolingbroke. Di sinilah jelasnya posisi jabatan dalam klub-klub professional dunia, sehingga tidak akan mungkin munculnya intervensi tugas dari sub yang satu dengan sub yang lainnya. Jika diibaratkan posisi Chairman tersebut merupakan pemilik utama dari tim tersebut atau dengan kata lain pemilik saham terbesar klub tersebut. Jika kondisi ini di tubuh PERSIB maka posisi ini milik konsorsium yang menginvestasikan dana yang paling besar pada tim PERSIB. Sedangkan posisi Chief Executive sendiri jika kondisi nya di tubuh tim PERSIB merupakan para konsorsium, orang-orang yang memiliki saham secara keseluruhan. Dan untuk posisi Chief Operating Officer sendiri merupakan posisi nya management, hal ini yang mengatur tim untuk membantu pelatih/management dan juga mengurusi hal tetek bengek persoalan tim lain nya seperti urusan menego dengan tim lain dan urusan transfer pemain, tetapi sangat jelas aturan nya jika pemain tersebut merupakan pemain yang diinginkan sang pelatih sesuai selera dan keinginan beliau tanpa ada intervensi dari pihak chief operating officer tersebut. Saya hanya ingin sedikit menggambarkan posisi PERSIB di awal musim ini, ketika pihak konsorsium meminang coach Darko untuk mengarsiteki tim ini. Pada awal nya coach yang Darko masih buta dengan kondisi persepakbolaan negeri ini melakukan beberapap kali uji coba terhadap beberapa pemain baik itu para legiun asing maupun lokal yang ingin berkostum PERSIB. Hal itu sangat diwajarkan karena selain masih buta dengan pemain-pemain yg berkeliaran di Liga Indonesia selain itu pun agar pembelian pemain tidak seperti membeli kucing dalam karung dan pemain tersebut karakteristiknya sesuai yang beliau ingin kan, untuk mengimplementasikan gaya permainan dan strategi yang diterapkan di lapangan. Dilain pihak Management pun mengajukan beberapa pemain yang ingin direkrut klub seperti Zah Rahan, Herman Abanda, dll. Ternyata diluar dugaan pemain tersebut tidak begitu sreg di hati sang pelatih kepala saat itu. Mungkin bagi saya pribadi hal ini bukan lah sebuah masalah karena seorang pelatih memang mempunyai wewenang penuh dalam hal perekrutan pemain. Pemain yang direkrut memang harus benar-benar yang sesuai dengan karakteristik keinginan seorang pelatih. Sedangkan beberapa pemain yang diinginkan pelatih justru ditentang management. Sebenarnya disinilah masalahnya, seperti yang saya kutip sebelum nya apakah seorang pelatih atau manager yang berhak menentukan masuk tidak nya pemain yang bersangkutan. Jika saja posisi pelatih dan manajer dalam satu kepala mungkin polemik ini tidak akan pernah terjadi sama sekali. Kembali pada saat penyeleksian pemain tersebut, ternyata para pemain pilihan pelatih lah yang berhasil bergabung dengan tim ini seperti Baihaki Kaizan, Isnan Ali, Rahmat Affandi, Pablo Frances, dan yang lain nya. Dilain pihak para pemain pilihan Management secara tidak langsung ditolak, maka makin meruncing lah permasalahan perpecahan ini. Setelah coach Darko dilengserkan pasca kekalahan pada pertandingan pre seasons di Palembang. Pemain-pemain bersangkutan yang notabene nya merupakan pilihan pelatih sudah tanggung dikontrak, maka mau tidak mau pemain yang bersangkutan pun harus membela panji-panji tim ini selama musim kompetisi ISL tahun ini. Tetapi apa yang saya pribadi takut kan ternyata terjadi juga, pemain-pemain bersangkutan yang notabene nya merupakan pilihan coach Darko, ternyata tidak mampu dimaksimalkan oleh pelatih pengganti nya yakni coach Jovo. Ya, seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya, karena pemilihan pemain memang tergantung selera sang pelatih. Apa mau dikata hasil nya dapat kita lihat dan rasakan dalam 6 pertandingan awal musim ini. Jujur, sangat memalukan bagi tim sekelas PERSIB, tim yang selalu mencanangkan target juara setiap musim baru akan di gelar. Maka dari itu, jika memang PERSIB saat ini merupakan sebuah tim profesional sudah saat nya meninggalkan kebudayaan-kebudayaan kolot khas tim Perserikatan, jika tidak apa beda nya dengan tim-tim yang masih menyusui dana hibah APBD.
Jujur kami sudah jenuh melihat konflik internal yang tiada guna dan tidak berujung seperti ini. Sudah saat nya semua elemen di tim ini bersatu baik itu konsorsium, management, pelatih, pemain dan juga kita semua para bobotoh. Karena hanya dengan bersatu, kita bisa mewujudkan mimpi kita menjadi Juara. Wujudkan mimpi kami… mimpi semua bobotoh… mimpi seluruh warga Jawa Barat… Respect and unity sebuah harga mati. Jayalah PERSIB ku!
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib


