| Dwi Anugrah Mugia Utama | Bobotoh | Mountaineering | Vegetarian | Working Class | Partikel Bebas |

Tuesday, November 9, 2010

Respect and Unity Sebuah Harga Mati



Lagi-lagi para punggawa PERSIB Bandung harus menelan pil pahit untuk kesekian kalinya di awal musim ini setelah di pertandingan terakhir dihantam tuan rumah PSPS Pekanbaru 1-0. Mengawali musim kompetisi ISL 2010/2011 dengan hasil yang sangat mengecewakan bagi semua elemen tim ini baik itu jajaran konsorsium, management, pelatih, pemain, maupun kita semua para Bobotoh. 6 pertandingan hanya mendapatkan 4 poin hasil dari 1 kali kemenangan 1 kali seri dan 4 kekalahan dan bercokol hanya satu peringkat diatas zona degradasi merupakan sebuah hasil yang sangat memprihatinkan bagi tim sekelas PERSIB Bandung.
Sebenarnya apa yang kurang dari tim PERSIB musim ini, dilihat dari segi financial tim sangat begitu menjanjikan ,disaat tim lain peserta ISL musim ini mengemis-ngemis pada pemerintahan daerah untuk mencairkan dana hibah nya demi tim nya bisa mengikuti jalannya kompetisi. Justru tim PERSIB dengan gagah nya diserbu para sponsor yang tertarik men sponsori tim ini. Dari segi pemain pun tim PERSIB Bandung merupakan salah satu tim yang sangat menjanjikan, 5 pemain berlabel timnas Indonesia, 2 pemain berlabel timnas Singapura, 4 pemain Asing yang notabenya bisa dikatakan yang terbaik di negeri ini dan beberapa talenta muda yang insya Allah mempunyai prospek cerah untuk kedepan nya, merupakan jaminan mutu kualitas tim ini. Untuk sektor pelatih pun bisa dikatakan cukup menjanjikan karena coach Jovo memilki segudang pengalaman dalam menangani sebuah tim sepakbola. Belum lagi ditambah dukungan publik Jawa Barat yang begitu hebat nya pada tim ini, kala PERSIB melakoni partai kandang, hampir nyaris tidak ada tempat kosong sedikitpun dari sektor tribun penonton. Belum lagi dari penonton yang menyaksikan laga PERSIB dari layar kaca, menurut informasi yang pernah saya dengar, PERSIB merupakan salah satu jagoan ANTV dalam hal ratting penonton di layar kaca, itulah alasan konkret mengapa jika PERSIB berlaga baik itu partai kandang maupun tandang selalu disiarkan live pihak ANTV (terkecuali jika melakoni tour Papua biasanya). Lalu sebenarnya apa yang kurang jika dilihat dari faktor tersebut diatas.

Mungkin ini hanya pandangan saya pribadi, dan maaf tidak ada maksud sedikitpun untuk mencari kambing hitam untuk sebuah keterpurukan ini.

Tidak ada kejelasan bagian kerja antara Konsorsium dan Management, hal ini menurut saya yang menjadi dasar keterpurukan tim PERSIB musim ini. Seperti yang kita ketahui bersama diawal sebelum bergulir nya kompetisi pihak konsorsium menunjuk coach Darko-Daniel Janakovic untuk mengarsiteki tim ini. Tapi dilain pihak ternyata management tidak setuju dengan penunjukan coach Darko dan telah memilki pihan nya tersendiri, tentu hal ini sangat jelas menciptakan kondisi yang sangat tidak kondusif di tubuh tim. Disinilah sebenarnya yang harus dirubah dan diperbaiki, sebenarnya yang berhak menentukan seorang pelatih di tim ini apakah pihak management atau pihak konsorsium? Ini harus jelas 100% jika memang diperlukan perjanjian dilakukan diatas materai, agar semuanya clear dan tidak ada klaim mengklaim, intervensi, atau sejuta kata dengan satu makna yang lain nya.
Manager dan Pelatih, sebenarnya ini masalah klasik yang dialami hampir seluruh tim semi-profesional. Sebenarnya siapakah yang lebih berhak merekrut dan mencari pemain untuk bermain di tim nya? Bukankah mulai kompetisi tahun lalu PERSIB sudah mengklaim diri yang asalnya tim semi-profesional berubah menjadi klub professional yang sudah tidak sama sekali menyusui dana hibah dari pihak Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar. Jadi sudah saat nya pula PERSIB merubah kebiasaan klub-klub amatir eks Perserikatan yang mempunyai “dua pemimpin dalam satu tim”. PERSIB sudah saatnya melebur posisi Manager dan Pelatih dalam satu kepala layaknya tim professional lain nya di muka bumi ini. Karena posisi ini layaknya seorang pemimpin perusahan, jika perusahaan mengalami kerugian atau kolaps maka pihak pemimpin perusahaan lah yang harus mempertanggung jawab kan nya pada pemilik perusahaan, begitu pula dalam klub sepakbola jika klub mengalami keterpurukan maka pihak pelatih/manager lah yang pihak pertama yang harus bertanggung jawab pada pemilik klub dalam hal ini adalah konsorsium. Contoh nya klub Manchester United, tim ini menunjuk seorang Sir.Alex Fergusons untuk menakodai tim ini sebagai pelatih merangkap Manager, sedangkan kepengurusan Manchester United dijabat chairman bersama Joel dan Avram Glazer. Posisi Chief Executive dipegang Bryan Glazer, Darcie Glazer, Edward Glazer dan Kevin Glazer. Sedangkan posisi Chief Operating Officer sendiri dipegang David Gill dan Michael Bolingbroke. Di sinilah jelasnya posisi jabatan dalam klub-klub professional dunia, sehingga tidak akan mungkin munculnya intervensi tugas dari sub yang satu dengan sub yang lainnya. Jika diibaratkan posisi Chairman tersebut merupakan pemilik utama dari tim tersebut atau dengan kata lain pemilik saham terbesar klub tersebut. Jika kondisi ini di tubuh PERSIB maka posisi ini milik konsorsium yang menginvestasikan dana yang paling besar pada tim PERSIB. Sedangkan posisi Chief Executive sendiri jika kondisi nya di tubuh tim PERSIB merupakan para konsorsium, orang-orang yang memiliki saham secara keseluruhan. Dan untuk posisi Chief Operating Officer sendiri merupakan posisi nya management, hal ini yang mengatur tim untuk membantu pelatih/management dan juga mengurusi hal tetek bengek persoalan tim lain nya seperti urusan menego dengan tim lain dan urusan transfer pemain, tetapi sangat jelas aturan nya jika pemain tersebut merupakan pemain yang diinginkan sang pelatih sesuai selera dan keinginan beliau tanpa ada intervensi dari pihak chief operating officer tersebut. Saya hanya ingin sedikit menggambarkan posisi PERSIB di awal musim ini, ketika pihak konsorsium meminang coach Darko untuk mengarsiteki tim ini. Pada awal nya coach yang Darko masih buta dengan kondisi persepakbolaan negeri ini melakukan beberapap kali uji coba terhadap beberapa pemain baik itu para legiun asing maupun lokal yang ingin berkostum PERSIB. Hal itu sangat diwajarkan karena selain masih buta dengan pemain-pemain yg berkeliaran di Liga Indonesia selain itu pun agar pembelian pemain tidak seperti membeli kucing dalam karung dan pemain tersebut karakteristiknya sesuai yang beliau ingin kan, untuk mengimplementasikan gaya permainan dan strategi yang diterapkan di lapangan. Dilain pihak Management pun mengajukan beberapa pemain yang ingin direkrut klub seperti Zah Rahan, Herman Abanda, dll. Ternyata diluar dugaan pemain tersebut tidak begitu sreg di hati sang pelatih kepala saat itu. Mungkin bagi saya pribadi hal ini bukan lah sebuah masalah karena seorang pelatih memang mempunyai wewenang penuh dalam hal perekrutan pemain. Pemain yang direkrut memang harus benar-benar yang sesuai dengan karakteristik keinginan seorang pelatih. Sedangkan beberapa pemain yang diinginkan pelatih justru ditentang management. Sebenarnya disinilah masalahnya, seperti yang saya kutip sebelum nya apakah seorang pelatih atau manager yang berhak menentukan masuk tidak nya pemain yang bersangkutan. Jika saja posisi pelatih dan manajer dalam satu kepala mungkin polemik ini tidak akan pernah terjadi sama sekali. Kembali pada saat penyeleksian pemain tersebut, ternyata para pemain pilihan pelatih lah yang berhasil bergabung dengan tim ini seperti Baihaki Kaizan, Isnan Ali, Rahmat Affandi, Pablo Frances, dan yang lain nya. Dilain pihak para pemain pilihan Management secara tidak langsung ditolak, maka makin meruncing lah permasalahan perpecahan ini. Setelah coach Darko dilengserkan pasca kekalahan pada pertandingan pre seasons di Palembang. Pemain-pemain bersangkutan yang notabene nya merupakan pilihan pelatih sudah tanggung dikontrak, maka mau tidak mau pemain yang bersangkutan pun harus membela panji-panji tim ini selama musim kompetisi ISL tahun ini. Tetapi apa yang saya pribadi takut kan ternyata terjadi juga, pemain-pemain bersangkutan yang notabene nya merupakan pilihan coach Darko, ternyata tidak mampu dimaksimalkan oleh pelatih pengganti nya yakni coach Jovo. Ya, seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya, karena pemilihan pemain memang tergantung selera sang pelatih. Apa mau dikata hasil nya dapat kita lihat dan rasakan dalam 6 pertandingan awal musim ini. Jujur, sangat memalukan bagi tim sekelas PERSIB, tim yang selalu mencanangkan target juara setiap musim baru akan di gelar. Maka dari itu, jika memang PERSIB saat ini merupakan sebuah tim profesional sudah saat nya meninggalkan kebudayaan-kebudayaan kolot khas tim Perserikatan, jika tidak apa beda nya dengan tim-tim yang masih menyusui dana hibah APBD.

Jujur kami sudah jenuh melihat konflik internal yang tiada guna dan tidak berujung seperti ini. Sudah saat nya semua elemen di tim ini bersatu baik itu konsorsium, management, pelatih, pemain dan juga kita semua para bobotoh. Karena hanya dengan bersatu, kita bisa mewujudkan mimpi kita menjadi Juara. Wujudkan mimpi kami… mimpi semua bobotoh… mimpi seluruh warga Jawa Barat… Respect and unity sebuah harga mati. Jayalah PERSIB ku!

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

Saturday, October 30, 2010

PERSIB Bandung VS PERSIJA Jakarta; Rivalitas klub atau fansclub?


Sabtu 30 Oktober 2010 kemarin kembali hadir pertandingan yang digadang-gadang seluruh publik sepakbola Negeri ini sebagai pertandingan terpanas antara PERSIB Bandung vs PERSIJA Jakarta. Bahkan pertandingan PERSIB-PERSIJA ini secara ratting TV bisa menyaingi bahkan mengalahkan pertandingan sekelas Manchester United - Liverpool atau Barcelona - Real Madrid di TV swasta Republik ini. Tapi kali ini saya tidak akan mencoba membahas jalannya pertandingan tersebut, karena seperti yang kita ketahui bersama hasil nya sangat memuakan bagi kita para bobotoh.
Semua penikmat sepakbola negeri ini tentu sudah mengetahui rivalitas 2 tim terbesar negeri ini, antara PERSIB Bandung dan PERSIJA Jakarta. Bahkan rivalitas ini pun sudah hal yang lumrah yang diketahui oleh hampir seluruh masyarakat negeri ini, bahkan oleh masyarakat yang tidak interest terhadap persepakbolaan dalam negeri sekali pun. Rivalitas kedua tim ini sudah seperti layaknya rivalitas klub-klub dunia yang memang mempunyai culture dan sejarah rivalitas yang panjang seperti Boca Juniors-River Plate, Ajax Amsterdam-Feyenord, Manchester United-Liverpool, atau bahkan Barcelona-Real Madrid. Tapi apakah memang rivalitas ini layak disebut sebagai partai sepakbola terpanas dinegeri ini? dan kedua tim ini mempunyai culture rivalitas yang sudah mendarah daging dan turun menurun? dan layak dikatakan sebagai rivalitas terbesar di negeri ini?
Sedikit menilik kebelakang tentang sajarah kedua tim ini, sebenarnya PERSIB dan PERSIJA tidak memiliki sejarah rivalitas yang cukup panjang. Bahkan jika berbincang-bincang dengan beberapa bobotoh kolot yang sudah mendukung PERSIB dalam beberapa generasi, beliau semua hampir sepakat sebenarnya sejak jaman perserikatan dahulu PERSIB lebih memiliki rivalitas dengan tim-tim besar lainnya seperti PSMS Medan, PSM Makasar atau PERSEBAYA Surabaya. Lalu sebenarnya sejak kapan rivalitas kedua tim ini bermula? Karena seperti yang kita ketahui bersama PERSIJA merupakan tim yang bisa dikatakan baru dalam panas nya Liga Indonesia, meskipun dilihat dari segi usia PERSIJA jelas lebih tua dan lebih dahulu berdiri dibandingkan dengan tim PERSIB sendiri. PERSIJA resmi lahir dan berdiri di tahun 1928 sedangkan PERSIB sendiri resmi berdiri 5 tahun kemudian di tahun 1933. PERSIJA sendiri sama hal nya seperti PERSIB, dua tim yang diawal pembentukannya selain sebagai tim sepakbola merupakan salah satu alat perjuangan rakyat Indonesia dimasa penjajahan bangsa luar.
Seperti yang diakui oleh mantan ketua The Jakmania (fansclub tim PERSIJA) Ferry Indrasyarif yang kini menjabat sebagai assisten manager tim PERSIJA, dalam beberapa artikel yang dia buat sendiri maupun dari obrolan-obrolan yang terdapat di film trilogi The Jak yang dibuat oleh Bogalakon Pictures. Bahwa PERSIJA sejak dahulu memang kurang mendapatkan perhatian dan dukungan publik Jakarta sendiri, bahkan ketika kondisi tim ini sedang hebat-hebatnya di dekade ‘60 dan ’70 an, seperti ketika mereka menjuarai liga Perserikatan dimusim 1964, 1971 dan 1978. Karena di musim 1978/1979 ini lah musim terakhir dimana PERSIJA merasakan menjadi juara pada liga Perserikatan yang resmi ditutup musim 1993/1994. Namun kondisi ini berubah 180 derajat ketika fansclub Jakmania hadir dipertengahan taun 1997, lambat laun masyarakat asli Jakarta maupun pendatang yang membanjiri Ibukota mulai mendukung tim Macan Kemayoran ini, apalagi dengan hadirnya piala Presiden di Ibukota yang sudah absen selama hampir 2 dekade terakhir, yakni pada Liga Indonesia VII tahun 2001, bertambah besar lah dukungan publik Jakarta terhadap PERSIJA. Berbeda 180 derajat dengan tim PERSIB sendiri dari literature dan data yang saya dapatkan, sejak jaman baheula sampai saat ini memang publik Bandung selalu mensupport dan mendukung PERSIB, karena memang pada liga Perserikatan PERSIB merupakan salah satu tim besar yang cukup dikatakan sering merasakan gelar juara selain PERSIS Solo, PSM Ujungpandang (sebelum berubah menjadi PSM Makasar), PERSEBAYA Surabaya dan PSMS Medan.
Lalu sejak kapan rivalitas PERSIB dan PERSIJA ini bermula? Karena bila berkata sejarah, seperti yang telah disebutkan diatas justru kedua tim PERSIB dan PERSIJA tidak mempunyai rivalitas yang kuat dan cukup panjang? Jika sedikit beranalisis PERSIB dan PERSIJA sebenarnya hanya salah satu katalisator permusuhan kedua kota tim ini berasal Bandung dan Jakarta. Secara historis Bandung adalah bakal ibukota Negara ini di masa kolonial Belanda. Berbagai kantor pusat pemerintahan Negara seperti Kereta Api, atau Pos dan Telekomunikasi pun berada di kota Bandung.Namun, perkembangan politiklah yang menunjuk Jakarta sebagai ibukota Negara sampai detik ini. Sejak jaman dahulu Bandung dikenal selalu membuat segala sesuatu yang berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, sebaliknya Jakarta pun sebagai ibukota Negara menolak bahwa jika di beberapa hal kota Bandung memang lebih baik. Baik itu hal musik, fashion, gaya hidup anak muda sampai tempat nongkrong. Mungkin jika diibaratkan rivalitas ini sama seperti Ajax Amsterdam dan Feyenoord Roterdam.
Hanya sedikit gambaran sebenarnya rivalitas klub sepakbola di Negara yang mempunyai culture sepakbola yang kuat merupakan hal yang sangat lumrah, masih banyak derby Negara yang biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh penduduk Negara tersebut bahkan dunia. Berikut ini beberapa pertandingan sepakbola yang mempunyai rivalitas tinggi di beberapa negara di belahan dunia lainnya beserta latar belakang nya:
1. El Clasico: Boca Juniors – River Plate, latar belakang pembagian 2 kubu di kota Buenos Aires Argentina ini lebih pada pertentangan antara kelas bawah dan kelas menengah atas. Bahkan majalah The Observer terbitan Inggris tahun 2004 pernah menulis mengenai 50 tontonan olahraga yang harus disaksikan sebelum anda mati. El Clasico ini menempati urutan teratas.
2. De Klassieker: Ajax Amsterdam – Feyenoord Roterdam, kedua klub ini berasal dari dua kota utama di negeri Belanda. Feyenoord dari Rotterdam adalah kota pelabuhan utama di Belanda sedangkan Ajax dari Amsterdam adalah ibukota kerajaan Belanda. Sejak masa silam pelabuhan Rotterdam dikenal sebagai salah satu pusat jalur lalu lintas ekonomi Eropa, sebaliknya Amsterdam adalah singgasana para bangsawan yang mengatur Belanda secara ekonomi maupun politik.
3. Old Firm: Glasgow Rangers – Celtic, penyebab utama rivalitas ke dua tim ini adalah antara hal yang paling sentimental di dunia ini yakni agama, dimana penganut Protestan dan Katolik di Glasgow Skotlandia mendukung tim yang berbeda untuk menunjukan jati diri dan identitas mereka.
4. Della Capitale: As Roma – Lazio, politik merupakan akar dari rivalitas kedua tim ibukota Italia ini, dimana Aliran Kiri melawan Aliran Kanan atau kaum Buruh vs Kaum Mapan.
5. D’Italia: Juventus – Inter Milan, kedua klub meskipun berbeda kota dianggap mewakili 2 klub yang paling berprestasi terbaik di Serie A, kasus calciopoli yang menimpa Juventus beberapa musim kebelakang pun menjadi bumbu tersendiri bagi rivalitas ke dua klub ini.
6. El Classico: Barcelona – Real Madrid, sebagian besar penduduk Barcelona berasal dari bangsa Catalan dan Basque, dengan menggunakan bahasa daerah Catalan. Sampai saat ini bangsa Catalan ini menganggap diri mereka bukan bagian dari Spanyol dan menganggap Spanyol sebagai penjajah mereka. Jika diibaratkan kondisi nya di Indonesia seperti GAM FC /RMS FC vs PERSIJA Jakarta.
7. Istambul derby: Fenerbache – Galatasaray, rivalitas dua klub utama di liga lokal Turki dan juga pertentangan kelas pekerja melawan kelas aristokrat.
8. Superclasico: Penarol – Nacional, pertandingan terpanas sepanjang masa di liga lokal Uruguay, penyebab rivalitas kedua klub ini cukup begitu kompleks dimana mencakup masalah para imigran melawan para nasionalis di Uruguay, selain itu pun hampir sama dengan rivalitas kebanyakan klub di dunia yakni rivalitas kaum proletar melawan kelas atas. Sedikit catatan pertandingan derby Penarol – Nacional ini merupakan derby tertua diluar Inggris.
9. Superclasico: Club America – Guadalajara, selain memperebutkan title klub terbaik sepanjang masa di Mexico, juga klub yang banyak membeli pemain asing melawan klub yang bermaterikan warga asli. Selain itu pun Superclasico ini mirip dengan PERSIB - PERSIJA dimana isu Ibukota dan Provinsi menjadi bumbu utamanya.
Selain beberapa pertandingan di atas masih banyak pertandingan lainnya yang secara rivalitas sangat kuat dan mempunyai sejarah yang sangat-sangat panjang. Lain waktu akan saya coba bahas lebih lanjut.
Kembali pada rivaitas PERSIB – PERSIJA, masih terlalu jauh jika membandingan rivalitas kedua klub ini dengan rivalitas klub-klub dunia diatas. Yang menjadi pertanyaan saya pribadi dari dahulu, apakah rivalitas ini adalah rivalitas klub atau hanya rivalitas fansclub? Jika berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan justru rivalitas ini lahir dan bermula sejak pecah nya permusuhan antara kedua fansclub terbesar kedua tim, yakni Viking Persib Club dan The Jakmania sekitar tahun 2000. Jika dilihat dari kacamata klub justru kedua tim ini jauh dari kata rivalitas, untuk memperebutkan title dua klub terbesar di negeri ini rasanya terlalu jauh, karena kedua klub ini pun sudah dikatakan cukup lama tidak merasakan gelar Juara PERSIB terakhir mendapatkannya di tahun 1994 sedangkan PERSIJA di tahun 1997. Jika berbicara prestasi 10 musim terakhir masih banyak klub yang lebih baik seperti PERSIPURA Jayapura atau Sriwijaya FC. Bahkan yang lebih lucu kedua tim ini bisa dikatakan cukup sering “tukar kostum”, yakni berpindahnya pemain PERSIJA berkostum PERSIB begitu pun sebaliknya. Arcan Iurie Anatoviceli, Antonio Claudio, Charis Yulianto, Marwal Iskandar, Imran Nahumarury, Nuralim, Andi Supendi, Lorenzo Cabanas, Sonny Kurniawan Atep dan Baihaki Kaizan merupakan daftar pelatih dan pemain yang dalam 10 musim terakhir yang berganti kostum dari orange menjadi biru. Bagi dua tim yang mempunyai rivalitas tinggi haram hukum nya memberikan pemain bersangkutan pada tim yang notabenya merupakan klub rival mereka. Seperti yang terjadi pada Manchester United dan Liverpool, mereka sudah menjaga tradisi ini 3 dekade lebih, tidak ada pemain Merseyside yang berbaju Manchester secara langsung pada musim berikutnya. Rivalitas tinggi ini pernah terjadi ketika pada saat Gabriel Heinze mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan Theather of Dream, gayung pun bersambut Rafael Benitez yang saat itu masih mengarsiteki kubu The Kop mengajukan penawaran yang sangat besar. Tetapi apa mau dikata kubu Manchester United lebih memberikan Gabriel Heinze pada Real Madrid dengan kontrak yang lebih kecil dibandingkan Liverpool. Inilah bukti sebuah klub yang menjaga rivalitasnya, mereka lebih baik memberikan mantan anak asuh nya dengan harga murah untuk klub lain daripada harus memberikan nya pada klub rival mereka meskipun secara materil lebih besar. Meskipun sistem tersebut belum bisa diterapkan di Liga Indonesia ini, karena seperti yang ketahui bersama klub-klub di Negeri ini belum mengenal yang namanya kontrak jangka panjang atau transfer pemain. Karena hampir semua klub di Indonesia masih menerapkan sistem kontrak primitif per musim, padahal jika dikelola secara baik ini merupakan salah satu sektor untuk klub menambah pundi-pundi kekayaannya, bukan kah sudah banyak pemain yang secara kualitas individu sangat baik di Liga Indonesia ini dan menjadi incaran klub-klub lainnya?
Namun pertanyaan diatas masih bisa kita rubah dengan, “mengapa klub masih mengambil pemain dari klub yang notabenya jelas-jelas klub rival mereka?” atau “mengapa masih banyak pemain yang dengan mudah nya berganti kostum dengan klub yang notabenya merupakan rival klub mereka sebelumnya?” jawaban yang akan keluar mungkin akan sama dan seragam, karena nilai kontrak yang diberikan oleh klub rival mereka cocok dengan yang mereka inginkan atau pemain pun beranggapan jika rivalitas klub di Indonesia bagi para pemain sendiri tidak berarti apa-apa dan bukan sesuatu yang begitu penting. Jadi, apakah rivalitas ini masih bisa dikatakan rivalitas klub? jika bukti dilapangan yang berivalitas hanya dari grass root yakni supporter saja. Sedangkan bagi klub, management, pelatih dan pemain sendiri rivalitas itu sendiri tidak ada. Masih layak kah PERSIB – PERSIJA dikatakan rivalitas dua klub? atau mungkin sudah saat nya kita merubah title menjadi rivalitas dua kubu fansclub supporter?

*disadur dari berbagai sumber

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

PERSIB Bandung vs PSV Eindhoven; This is a Fact!


Ruud Gullit pernah merasakan langsung hangat nya rumput stadion Siliwangi apalagi berhadapan dengan tim terbaik sepanjang masa versi saya PERSIB Bandung. Yah, ini bukan sekedar isu atau bualan belaka, karena ketika secara tidak sengaja saya berbincang-bincang dengan salah satu Bobotoh kolot, beliau menceritakan bahwa pada Maret tahun 1988 PERSIB Bandung pernah kedatangan tamu istimewa salah satu tim terbesar pada masa itu PSV Eindhoven. Tentu saja saya tidak tahu, karena pada saat itu mungkin saya belum menjadi seorang bobotoh (baru berumur 3 tahun, mana ngerti sepakbola apalagi Ruud Gullit lol). Pada saat itu PSV Eindhoven sedang melakoni rangkaian tur Asia bersama sponsor abadi tim ini Philips. Dalam turnya kali ini, PSV Eindhoven dihadapkan dengan beberapa tim papan atas Indonesia. PERSIB Bandung yang saat itu menjadi salah satu tim yang paling bergengsi di tanah air diberi kesempatan melakoni partai uji coba istimewa ini, meskipun yang menjadi juara dan runner up di kompetisi Perserikatan musim sebelumnya 1987/1988 yakni PERSEBAYA Surabaya dan PERSIJA Jakarta.

Pasukan PSV Eindhoven yang diturunkan menurut informasi yang saya dapatkan pun bukan pemain kelas dua Eropa seperti kondisi tim PSV Eindhoven saat ini. Tapi tim yang diturunkan pada saat beruji coba dengan PERSIB memang benar-benar pemain kelas dunia pada masa nya. Selain Ruud Gullit yang pada saat itu sudah dipinang AC Milan dan tercatat sebagai pemain termahal dunia, PSV Eindhoven pun diperkuat beberapa pemain bintang lainnya seperti Ronald Koeman, Wim Kieft dan Eric Gerets yang pernah menjadi kapten timnas Belgia. PERSIB Bandung sendiri pada saat itu menurunkan skuad terbaik nya ketika menjuarai kompetisi Perserikatan 1986 antara lain El Capitano Adeng Hudaya, Bambang Sukowiyono, Wawan Hermawan, Dede Rosadi, Erik Ibrahim, Ade Mulyono, Djajang Nurdjaman, Sobur, Boyke Adam, Suryamin, Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Ajid Hermawan, Ujang Mulyana, Sam Triawan. Dan diarsiteki oleh Nandar Iskandar dan Indra Thohir . Hasilnya pun sudah dapat ditebak, meskipun saat itu PERSIB menurunkan skuad terbaiknya, tapi apa daya mereka semua tidak berdaya dihadapan Ruud Gullit cs dan gawang Wawan Hermawan pun dibombardir 4 gol tanpa balas. Gol PSV Eindhoven sendiri pada saat itu dicetak oleh Willy Van De Kerkhof, Eric Gerets dan Ruud Gullit 2 gol. Namun ke empat gol tersebut kesemuanya di cetak di babak pertama. Masa lalu yang sangat indah….. apakah mungkin untuk saat ini seorang pemain terbaik dunia seperti Wayne Rooney atau bahkan Lionel Messi dapat merasakan hangatnya rumput stadion Siliwangi, yang saat ini lebih layak dikatakan kebun kentang dibandingkan sebuah stadion seperti yang diungkapkan coach Timnas Indonesia Afred Riedl.

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

Monday, October 11, 2010

Football is Life


Tanpa disadari olahraga dengan dua puluh dua pemain aktif di lapangan ini telah menjelma menjadi sesuatu yg mampu memberi arti pada hidup seseorang. Bahkan seorang Manager legendaris Merseyside Reds pun pernah berkata dan menjadi kutipan sepakbola yang sangat terkenal sampai saat ini "Some people think that football is a matter of life and death. Let me tell u this... it is much more serious than that!" Kutipan ini muncul ketika beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia sepakbola, lalu hanya menunggu beberapa hari saja munculah kutipan tersebut dan membuat beliau menganulir keputusan nya.

Orang awam boleh saja menelan ludah ketika menemukan seseorang dengan sebuah tato berlogo tim kebanggaan nya di punggung, bahu, kaki, atau tangan mereka. Kegilaan-kegilaan seperti ini mungkin menjadi hal yang aneh bagi kebanyakan orang, tapi rasa fanatisme seseorang pendukung sepakbola memang selalu tidak dapat ditebak dan masuk logika. Sepakbola memang lebih dari hidup dan banyak orang yang percaya akan hal itu. Berapa ratus bahkan puluhan ribu orang yang rela mengorbankan jiwa dan raga nya demi tim yang mereka bela. Ini bukan hanya sekedar cerita fiksi menyayat hati yang membuat orang berdecak seakan tidak percaya layaknya film-film dari Korea atau sinetron Cinta Fitri, karena ini sebuah cerita nyata yang terjadi di depan mata. SAVE OUR FOOTBALL, RESPECT!

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

Monday, August 30, 2010

Inter Island Cup (IIC) 2010 at Jakabaring Stadium Palembang; PERSIBA Balikpapan 2 - PERSIB Bandung 3



Inter Island Cup (IIC) 2010 at Jakabaring Stadium Palembang;
PERSIBA Balikpapan 2
PERSIB Bandung 3

Dalam laga perdana yang dilakoni skuad PERSIB Bandung dalam turnament IIC 2010 yang berlangsung di Stadion Jakabaring Palembang tadi malam, sangat terlihat permainan Cecep Supriatna dkk kurang begitu greget, meskipun kedudukan akhir 2-3 untuk kemenangan PERSIB. Hal ini nampaknya bisa cukup dimaklumi selain karena faktor pertandingan perdana yang dilakoni skuad PERSIB, faktor ketidakhadiran 5 pemain inti yang sedang menjalani pemusatan pelatihan timnas Garuda pun menjadi alasan yang kongkret. Selain itu pun harus diingat pula PERSIB dalam pertandingan tersebut belum diperkuat 2 pemain asing Asia, yang semoga secara skill dan kualitas nya diatas rata2 pemain yang telah ada.
Hal ini sangat terlihat mencolok pada sektor pertahanan tim PERSIB, dimana 2 orang yang bertugas entah itu menjadi seorang stoper, libero, atau center back belum bekerja secara maksimal dan terjalin nya sebuah komunikasi yang cukup baik di lapangan. Beberapa kali pun offside trap yang diterapkan gagal dijalankan dengan baik dan selalu lambat untuk menutup pergerakan para striker lawan, untung nya penyelesaian akhir sang top skor ISL musim lalu Aldo Baretto pun kurang begitu baik. Hal ini sangat lah berbahaya jika PERSIB berhadapan dengan tim2 yang memiliki striker2 bertipikal petarung dan oportunis layaknya Keith Kayamba Gumps atau Boas Salosa.
Sedangkan posisi wing back kanan yang ditempati Wildansyah terlihat belum terbiasa atau masih sedikit canggung dengan pola 4 pemain sejajar di lini pertahanan yang diterapkan coach Darko, hal ini bisa dilihat dari kedua goal yang bersarang ke gawang PERSIB pun berawal dari serangan yang dibangun Eka Santika dkk dari sektor sisi kanan pertahanan PERSIB, sedangkan di posisi wing back kiri punggawa baru PERSIB musim ini Isnan Ali dengan segudang pengalamanya allhamdulilah bermain cukup taktis.
Di sektor tengah nampaknya coach Darko lebih memaksimalkan kedua sayap dibandingan serangan yang dibangun lewat tengah lapangan. Terlihat Esteban Viscara begitu jarang memberikan umpan2 cantiknya pada kedua striker, selain itu pun sepertinya bola terlalu nyaris jarang berlama-lama berdiam di kaki Viscara layaknya seorang konduktor permainan. Namun dibalik itu semua service bola mati seorang Viscara mempunyai kredit poin tersendiri, beberapa kali umpan manisnya memanjakan kedua striker termasuk goal ke dua PERSIB yg diselesaikan dengan baik melalui tandukan seorang Christian Gonzales.
Namun sayang permaina seorang Airlangga di babak pertama yang diplot sebagai sayap kanan bekerja tidak cukup maksimal, naluri seorang Airlangga sebagai seorang striker lebih menonjol, dimana Airlangga terlihat beberapa kali melakukan shoot ke arah gawang lawan yang nampaknya kurang efektif. Namun permainan Siswanto di sektor kiri cukup menjanjikan, beberapa kali Siswanto memberikan service2 yang cukup memanjakan kedua striker, malah beberapa kali Siswanto mengeluarkan skill bermain nya yang diatas rata2 untuk melewati hadangan pemain lawan.
Pada babak ke dua coach Darko memberikan kepercayaan pada pemain muda Jejen Zaenal, dan tanpa diduga permainan Jejen cukup begitu impresif di sisi kanan permainan, satu assist nya pun berbuah manis karena mengakibatkan seorang Dadic melakukan goal bunuh diri.
Dalam pertandingan tersebut pun terlihat coach Darko memainkan pola yang masih jarang diadopsi tim2 di Indonesia, formasi ini membutuhkan pemain dengan kualitas dan karakter menyerang, tetapi harus punya kesadaran untuk bertahan saat kehilangan bola. Selain itu, seorang yang diplot menjadi seorang gelandang bertahan pun harus disiplin akan posisi, tahu kapan naik dan kapan harus turun. Terlihat beberapa kali di lapangan coach Darko meneriaki Hariono untuk melakukan hal tersebut dan sadar posisi.
Untuk posisi striker sendiri nampaknya belum terjalin kerjasama dan komunikasi yang cukup apik antara seorang Christian Gonzales dan Pablo Frances, harus dimaklumi juga karena waktu nya pun belum lama untuk menemukan chamestry di antara keduanya, layaknya musim lalu ketika El Loco bertandem dengan Hilton Moreira. Tapi seiring jalan nya waktu insya Allah chamestry itu akan terbentuk dengan sendirinya.

*Semoga dipertandingan selanjutnya masih dalam gelaran Inter Island Cup (IIC) melawan Sriwijaya FC para punggawa PERSIB bermain lebih baik dan baik lagi, agar terbentuk nya sebuah tim yang kuat dan memiliki mental juara. Karna sebuah pertandingan uji coba bukan hanya untuk melihat hasil skor pertandingan tapi yang terpenting permainan yang ditampilkan untuk bahan sebuah evaluasi di pertarungan yang sesungguhnya. JAYALAH PERSIBKU!

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

Thursday, June 10, 2010

Budaya Salah Kaprah Hooliganisme di Indonesia


HOOLIGAN; mungkin inilah sebuah kata yang saat ini sedang sangat populer dikalangan penikmat sepakbola Negeri ini. Nama Hooligan saat ini memang telah menjadi sebuah trend dikalangan supporter Indonesia layaknya Skinhead, Punk atau Mods. Contoh kecil, ratusan bahkan ribuan orang memakai nick name kata Hooligan ini pada akun jejaring sosial mereka. Belum lagi ratusan design tshirt/sweater/jacket yang menunjukan bahwa mereka si pemakai adalah seorang Hooligan Sepakbola sebuah tim di Indonesia. Dan masih banyak gejala sosial lainnya yang menunjukan Hooligan saat ini menjadi sebuah trend dikalangan para supporter di tanah air.

Tapi tahukah mereka apa arti sebenarnya dari kata Hooligan tersebut? Kata Hooligan sendiri tidak hanya berfungsi menjadi kata benda (noun) saja yang berarti pendukung fanatik tim Inggris. Dalam konteks yang lebih luas, Hooligan bisa pula berfungsi menjadi kata sifat (adjective), kata kerja (verb), dan kata keterangan (adverb). Semua kelompok kata tersebut mewakili perilaku, sifat, pekerjaan atau perbuatan, dan keterangan atau keadaan yang menggambarkan perilaku tidak sportif, tidak jantan, tidak mau mengakui dan menerima kekalahan, anarki, destruktif, serta fanatisme buta. Jadi, Hooligan bukan hanya ada dalam kamus persepakbolaan, melainkan juga dapat diadopsi dalam realitas yang lain, termasuk politik. Hooliganisme diartikan sebagai tindakan atau perilaku kekerasan dan destruktif. Istilah Hooliganisme sendiri sudah muncul sejak akhir abad ke 19 tepatnya pada 1898 di Inggris.

Hooligan sendiri mengandung artian fans sepakbola yang brutal ketika tim idolanya kalah bertanding. Hooligan merupakan stereotip supporter dari Negara Inggris, tetapi saat ini telah menjadi sebuah fenomena global. Sebagian besar dari para Hooligan ini merupakan para back-packer yang sangat berpengalaman dalam bepergian. Mereka sering menonton pertandingan yang sangat beresiko besar. Banyak dari mereka sering keluar masuk penjara karena sering terlibat bentrok fisik dengan supporter musuh maupun dengan pihak keamanan sebuah wilayah. Untuk mengantisipasi adanya kerusuhan, gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan dengan sangat matang untuk sebuah perkelahian. Mereka sangat jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim idolanya, dan memilih berpakaian asal-asalan agar tidak terdeksi oleh pihak keamanan dan pendukung musuh. Para Hooligan ini biasanya tidak duduk dalam satu tempat bersama-sama, tetapi berpencar-pencar. Dan satu yang pasti tujuan utama para Hooligan ini hadir dalam sebuah pertandingan yaitu ingin membuat sebuah keributan, dan menonton sebuah pertandingan menjadi tujuan mereka selanjutnya.

Lalu apakah keadaan ini sejalan dengan tingkah laku para supporter di Negeri ini? Jawabannya sudah pasti sangat jauh sekali. Dalam kamus para Hooligan, kehadiran mereka di arena pertandingan mungkin hanya menyanyikan dan mengumandangkan chants-chants tim kebangsaan mereka dan tidak pernah mengenal dengan yang nama nya tetabuhan tambur dan tari-tari an di dalam stadion layaknya supporter di Indonesia. Selain itu pun para Hooligan tidak mengenal dengan yang namanya flair berwarna dan berasap tebal atau beraneka ragam petasan yang selama ini sering terlihat dan menjadi ciri khas stadion-stadion di Indonesia (karena hal ini merupakan ciri khas para Ultras).

Sangat disayangkan Hooligan di Indonesia saat ini lebih diartikan menjadi sebuah trend bahkan fashion, karena namanya yang sangat keren dan kebarat-baratan. Mereka cenderung menjadi seorang fashion victim, yang memakai sesuatu tanpa tau maksud dan tujuan dibalik pakaian/atribut yang mereka gunakan. Memakai tshirt dengan kata-kata yang super menakutkan dan menunjukan seorang Hooligan sejati, tetapi untuk melakoni laga away saja harus berfikir berpuluh-puluh kali karena kota A dan B bukan bagian dari teman kelompok mereka. Apakah seperti ini layak menyandang ‘gelar’ seorang Hooligan? Inilah budaya salah kaprah yang terjadi dikalangan para pecinta sepakbola tanah air selama ini. Kenapa kita tidak percaya diri untuk memakai dan mengembangkan culture kita sendiri yang sudah turun menurun dan cenderung bangga memakai culture luar. Sudah saat nya kita semua kembali pada culture budaya kita sebagai orang timur, termasuk dalam hal menjadi seorang supporter sepakbola. Mengapa harus bangga menggunakan kata-kata Hooligan, Ultras, atau sejuta kata keren lainnya yang jelas-jelas bukan milik kita. Perkenalkan budaya kita pada dunia bukan kita yang menjadi korban budaya dunia.

*disadur dari berbagai sumber

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib

Thursday, June 3, 2010

Bintang Tim Nasional: Garuda Merah vs Garuda Putih



Bintang Tim Nasional
Garuda Merah vs Garuda Putih
Resmi sudah diselenggarakan koran olahraga Top Skor dan portal Goal.Com, dengan mengundang sekitar 4 pemain 'naturalisasi' dalam 'CharityGame' yang akan berlangsung 4 dan 7 Agustus, di Stadion Gajayana Malang dan 10 November Tambaksari Surabaya.

Para pemain yang masuk nom...inasi nantinya, akan dipilih oleh dua arsitek muda Indonesia, Rachmad Darmawan dan Jaya Hartono. Diperkirakan, akan terpilih 15 pemain untuk Garuda Merah dan 15 pemain untuk Garuda Putih.

Demikan para pemain yang masuk nominasi pemain nasional masa depan Indonesia :

Hasil Poling KIPER
Kepada anggota PSSI TANDINGAN yang kami hormati. Setelah sebulan mendata poling dari semua penggila bola Indonesia. Nominasi penjaga gawang yang sudah masuk database, akhirnya kami pilih enam kiper favorit Anda. Keenam kiper ini nanti akan disaring menjadi empat punggawa di atas mistar, sebagai pemain nasional Tim Garuda Merah dan Garuda Putih.

Keenam kiper ini selama sebulan mampu meraih suara terbanyak. Mereka terdiri adalah Kurnia Meiga (Arema, 20 tahun) meraih 109 suara, Markus Haris Maulana (Persib, 29 tahun) dapat 93 suara, Ferry Rotinsulu (Sriwijaya FC, 28 tahun) dengan 51 suara, Donovan Partosoebroto (Ajax Jr, 20 tahun) dengan 23 suara, Tri Windu Anggono (SAD, 18 tahu) dapat 22 suara, dan disusul Danang Wihatmoko (Persijap, 28 tahun) meraih 21.

Hasil Poling BELAKANG
Sesuai dengan hasil kriteria poling sejak 16 April 2010 lalu, akhirnya kami pilih 12 pemain di posisi belakang. Kriterianya sebagai berikut: Satu : Bukan pemain tim nasional terakhir asuhan Benny Dollo. Dua : Bisa dari bekas tim asuhan Benny Dollo, jika berusia diantara 21 – 26 tahun.

Hasilnya, ke-12 pemain tersebut adalah Ricardo Salampessy (Persipura, 24 tahun) menjadi unggulan dengan 88 suara, Yericho Cristiantoko (SAD, 18 tahun) dengan 46 suara, Irfan Raditya (Arema, 22 tahun) meraih 38 suara, Zulkifly Sukur (Arema, 26 tahun) dengan 36 suara, M. Wildansyah (Persib, 23 tahun) 35 suara, Purwaka Yudi (Arema, 26 tahun) dapat 31 suara, M. Roby (Persisam, 25 tahun) 31 suara, Jayusman Triasdi (Persebaya, 23 tahun) meraih 29 suara, Benny Wahyudi (Arema, 24 tahun) dapat 27 suara, Bobby Satria (Sriwijaya FC, 24 tahun) 22 suara, Zaenal Haq (SAD, 18 tahun) 17 suara, Dedi Gusmawan (PSPS, 25 tahun) 10 suara.

Hasil Poling TENGAH
Sesuai dengan hasil kriteria poling sejak 16 April 2010 lalu, akhirnya kami pilih 12 pemain di posisi lini tengah. Kriterianya sebagai berikut: Satu : Bukan pemain tim nasional terakhir asuhan Benny Dollo. Dua : Bekas tim asuhan Benny Dollo, masih bisa terpilih jika berusia diantara 21 – 26 tahun.

Ke-12 barisan yang diharapkan bisa memainkan karakter sebagai playmaker, destroyer, dynamo dan gelandang serang ini, akhirnya terpilih adalah Atep (Persib. 25 tahun) meraih 112 suara, Eka Ramdani (Persib, 26 tahun) dapat 82 suara, Hariono (Persib, 25 tahun) memperoleh 74 suara, Ahmad Bustomi (Arema, 25 tahun) 52 suara, Siswanto (Persema, 26 tahun) 52 suara, Taufik (Persebaya, 24 tahun) 51 suara, Arif Suyono (Sriwijaya FC, 26 tahun) 51 suara, Ian Louis Kabes (Persipura, 24 tahun) 46 suara, Abdulrachman.Lestaluhu (SAD, 18 tahun) mendapat 33 suara, Emmanual Wanggai (Persipura, 22 tahun) 33 suara, Johan Johansyah (Persijap, 22 tahun) 27 suara dan yang terakhir M. Nasuha (Sriwijaya FC, 26 tahun) 26 suara.

Hasil Poling DEPAN
Sesuai dengan hasil kriteria poling sejak 16 April 2010 lalu, akhirnya kami pilih 12 pemain di posisi lini depan. Kriterianya sebagai berikut: Satu : Bukan pemain tim nasional terakhir asuhan Benny Dollo. Dua : Bekas tim asuhan Benny Dollo, masih bisa terpilih jika berusia diantara 21 – 26 tahun.

Ke-12 pemain yang diharpakan bisa menjadi mesin gol sekaligus memiliki daya jelajah dari sayap kiri dan kanan ini, akhirnya terpilih Boaz Solossa (Persipura, 24 tahun) meraih angka 130 suara, Yongki Aribowo (Persik, 21 tahun) meraih 91 suara, Samsir Alam (SAD, 18 tahun) 63 suara, Andik Vermansyah (Persebaya, 18 tahun) 60 suara, Samsul Arif (Persela, 25 tahun) 50 suara, Irfan Bachdim (SV Argon, 21 tahun) 37 suara, Airlangga Sucipto (Persib, 25 tahun)31 suara, Alan Martha (SAD, 18 tahun 23 suara, Octavianus Maniani (Persitara, 20 tahun) 17 suara, Dendi Santoso (Arema, 20 tahun) 17 suara, Jajang Mulyana (Pelita Jaya, 22 tahun) 15 suara, dan yang terakhir Ferry Aryawan (Persiba, 24 tahun) 15 suara.

*disadur dari berbagai sumber

Oleh Dwi Anugrah Mugia Utama
Pecinta Sepakbola dan Bobotoh Persib